TOGAF

The Open Group Architecture Framework (TOGAF) merupakan salah satu acuan kerangka kerja untuk melakukan pengembangan, penerapan, dan pengelolaan arsitektur dibidang teknologi informasi pada sebuah organisasi atau perusahaan. Proses penyusunan Enterprise Architecture (EA) dengan menggunakan TOGAF sebagai framework untuk mendapatkan gambaran yang jelas, bagaimana sebuah perancangan EA dilakukan, dengan mengikuti tahapan Architecture Development Method (ADM).

Setiap tahapan pada TOGAF ADM dapat dilakukan secara benar apabila proses bisnis yang ada di dalam organisasi benar-benar dipahami dan mampu diidentifikasi secara lengkap dan benar. Hasil keluaran dari proses ADM ini disajikan dalam bentuk Artifact. Artifact adalah segala bentuk dokumentasi yang dihasilkan yang menggambarkan komponen yang dihasilkan pada penyusunan EA. Jenis Artifact yang dihasilkan antara lain catalog, matrix, dan diagram.

TOGAF memandang enterprise architecture ke dalam empat kategori yaitu:

  • Business Architecture; Mendeskripsikan tentang bagaimana proses bisnis untuk mencapai tujuan organisasi.
  • Data/Information Architecture; Adalah penggambaran bagaimana penyimpanan, pengelolaan dan pengaksesan data pada organisasi.
  • Application Architecture; Merupakan pendeskripsian bagaimana aplikasi tertentu didesain dan bagaimana interaksinya dengan aplikasi lainnya.
  • Technology Architecture; Gambaran mengenai infrastruktur hardware dan software yang mendukung aplikasi dan bagaimana interaksinya.

Organisasi yang dapat mengelola perubahan secara efektif umumnya lebih berhasil daripada mereka yang tidak bisa. Oleh karena itu diperlukan metode yang efektif bagi suatu organisasi untuk secara bertahap menerapkan kontrol dan meningkatkan proses pembangunan yang berhubungan dengan teknologi informasi. Evaluasi terhadap EA yang dibangun perlu dilakukan untuk menilai tingkat kematangannya. Menurut ACMM (Architecture Capability Maturity Model), terdapat enam level dan sembilan karakteristik dalam menilai tingkat kematangan suatu organisasi. Adapun enam level dan sembilan karakteristik tersebut antara lain:

  • Level 0 – None: Tidak ada program Enterprise Architecture.
  • Level 1 – Initial: Proses sudah ada namun masih bersifat informal/ad-hoc.
  • Level 2 – Under Development: Proses sedang dalam pengembangan.
  • Level 3 – Defined: Proses sudah berjalan, dimana arsitektur didefinisikan dengan baik dan dikomunikasikan kepada personel IT dan manajemen bisnis .
  • Level 4 – Managed: Proses dikelola dan diukur. Selain itu, pada level ini juga menunjukkan bahwa proses enterprise architecture sudah menjadi bagian dari budaya organisasi.
  • Level 5 – Measured: Perbaikan proses dilakukan secara terus-menerus.
%d bloggers like this: